BEKAWAN.CO.ID, BANGKA TENGAH – Masyarakat Bangka Tengah diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit influenza. Keluhan dengan gejala demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri otot hingga sakit tenggorokan dilaporkan mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
Dokter Spesialis Paru yang melayani di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abu Hanifah Bangka Tengah, dr. Bayu Irianto, Sp.P, mengatakan peningkatan tersebut terlihat dari semakin banyaknya pasien yang datang dengan keluhan yang mengarah pada infeksi saluran pernapasan.
“Kalau pasien datang dengan gejala itu meningkat. Cuma seberapa kasus banyaknya itu kurang paham. Yang pasti meningkat keluhan pasien-pasien datang sekarang dengan keluhan demam, batuk, nyeri otot, sakit kepala, pilek, sakit tenggorokan itu meningkat,” kata dr. Bayu saat dibincangi Bangkapos, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, pasien dengan keluhan serupa hampir setiap hari datang ke rumah sakit. Bahkan, berdasarkan pengamatan klinisnya, peningkatan keluhan influenza diperkirakan mencapai sekitar 50 persen dibandingkan sebelumnya.
“Ada 50 persen, peningkatan influenza yang datang mungkin sampai 50 persen,” ujarnya.
Namun, dr. Bayu menegaskan angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan pengamatan terhadap pasien yang datang, bukan data resmi jumlah kasus Influenza A di Bangka Belitung.
Dr. Bayu menjelaskan influenza merupakan penyakit infeksi akibat virus yang mudah menular. Penularannya cenderung lebih mudah terjadi saat musim pancaroba atau ketika terjadi perubahan cuaca yang drastis.
Influenza terdiri atas beberapa tipe, di antaranya Influenza A, B dan C.
“Influenza ini ada tipe A, B, C. Pada umumnya influenza ini penyakit yang disebabkan oleh virus akibat infeksi virus yang mudah menyebar, terutama saat musim pancaroba atau perubahan cuaca yang drastis,” jelasnya.
Dari sejumlah tipe tersebut, Influenza A dinilai memiliki risiko lebih besar untuk berkembang menjadi kondisi berat.
“Yang paling berat itu tipe A. Lebih gampang bermutasi virusnya di tipe A, sehingga penyebaran itu bisa lebih cepat,” kata dr. Bayu.
Gejala awal Influenza A maupun influenza secara umum dapat menyerupai penyakit saluran pernapasan lainnya, seperti demam, sakit kepala, batuk, pilek, nyeri otot dan sakit tenggorokan.
Persoalannya, pada sebagian pasien, infeksi tersebut dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
“Keluhan utamanya sama, cuma berisiko untuk menjadi berat,” ujarnya.
Menurut dr. Bayu, kondisi pasien perlu diperhatikan apabila infeksi virus kemudian disertai infeksi bakteri.
Kombinasi infeksi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada paru hingga kondisi yang lebih serius.
“Misalkan dia pneumonia virus, tapi mix itu kombinasi, jadi akhirnya ke bakterial. Kalau ada bakterial, perlu pengobatan lanjutan,” jelasnya.
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah perubahan pada batuk dan dahak.
“Misalkan batuk dahaknya berubah, jadi warnanya kekuningan atau kehijauan, itu sudah mengarah ke infeksi bakterial,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, pasien dapat membutuhkan pengobatan lebih lanjut, termasuk antibiotik apabila memang terdapat indikasi medis.
Untuk pasien influenza yang menjalani rawat jalan, pemberian antivirus pada umumnya tidak selalu diperlukan. Penanganan lebih banyak diarahkan untuk mengurangi gejala dan membantu proses pemulihan.
“Indikasi antivirusnya itu pada pasien-pasien rawat inap, atau pasien-pasien tertentu yang punya faktor risiko mengarah kemungkinan pasien ini bakal jadi berat,” ujarnya.
Influenza dapat menyerang siapa saja. Namun, risiko berkembang menjadi kondisi berat lebih tinggi pada kelompok tertentu.
Dr. Bayu menyebut lansia berusia di atas 60 tahun, anak-anak berusia di bawah lima tahun, serta pasien dengan penyakit penyerta perlu mendapat perhatian lebih.
“Pasien-pasien lansia, di atas usia 60 tahun, atau anak-anak usia kurang dari lima tahun, atau pasien-pasien dengan penyakit penyerta yang lain, misalkan sakit gula, jantung, hipertensi, kondisi-kondisi itu akan membuat penyakit virus itu lebih gampang, lebih berisiko menjadi berat,” ungkapnya.
Kondisi berat dapat berkembang menjadi infeksi bakteri yang luas, sepsis hingga gagal napas.
“Berat itu kondisinya bisa sampai menyebabkan infeksi bakterial, infeksinya sampai menyeluruh, atau kalau kami bilangnya sepsis, sampai menyebabkan gagal napas,” katanya.
Risiko juga perlu diperhatikan pada penderita penyakit paru seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
“Pada saat pasien-pasien asma atau PPOK itu kena influenza, risikonya asma jadi gampang serangan. Atau PPOK-nya gampang terjadi serangan,” jelasnya.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu langsung panik. Dr. Bayu mengatakan influenza pada umumnya dapat mereda dengan sendirinya apabila kondisi imunitas tubuh pasien baik.
“Pada umumnya 14 hari. Akan mereda dengan sendirinya apabila imunitas tubuhnya baik,” katanya.
Namun, kondisi setiap pasien berbeda. Karena itu, masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangan gejala.
Influenza juga dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada paru apabila berkembang menjadi lebih berat.
“Influenza kalau lebih lanjut akan menyebabkan risiko infeksi paru menjadi lebih tinggi, influenza tipe A tidak secara langsung berarti paru-paru mengalami kerusakan. Namun, ketika infeksi berkembang menjadi lebih berat, kondisi tersebut dapat mengganggu sistem oksigenasi tubuh,” jelasnya.
Selain faktor virus, kondisi lingkungan juga perlu menjadi perhatian. Perubahan cuaca saat pancaroba, ditambah paparan debu dan asap, dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.
“Prinsipnya virusnya gampang bermutasi, lebih tahan dan lebih gampang menyebar,” kata dr. Bayu.
“Ditambah dengan debu, asap. Debu dan asap itu risiko, karena akan merusak sistem di seluruh pernapasan, yang akan memudahkan virus masuk ke dalam,” lanjutnya.
Mobilitas masyarakat yang tinggi juga menjadi salah satu faktor yang membuat penularan lebih mudah terjadi, terutama di lingkungan sekolah dan tempat yang banyak dihuni anak-anak.
“Kalau misalkan di satu sekolah, TK, SD, ada satu anak yang influenza, dengan gampang menyebar ke anak-anak yang lain,” ujarnya.
Untuk mencegah penularan, masyarakat yang sedang mengalami gejala influenza disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah.
Apabila tetap harus beraktivitas, penggunaan masker dapat membantu mengurangi risiko penularan kepada orang lain.
“Pencegahan yang paling optimal itu memang mengurangi kegiatan di luar rumah. Kalau akhirnya memang kita berkegiatan di luar rumah, disarankan penggunaan masker untuk mengurangi risiko penularan,” katanya.
Influenza A memiliki sejumlah gejala yang mirip dengan penyakit pernapasan lainnya, termasuk Covid-19. Demam, batuk, pilek dan nyeri otot dapat muncul pada kedua penyakit tersebut.
Salah satu gejala yang dahulu cukup khas pada Covid-19 adalah gangguan penciuman.
“Kalau Covid berisiko untuk mengurangi penciuman, kalau influenza tipe A tidak,” kata dr. Bayu.
Meski demikian, gejala saja tidak selalu dapat memastikan jenis virus yang menginfeksi seseorang. Pemeriksaan medis tetap diperlukan apabila terdapat indikasi tertentu.
Selain menerapkan perilaku hidup bersih dan menggunakan masker ketika sakit, vaksinasi influenza juga dapat menjadi salah satu upaya perlindungan.
Menurut dr. Bayu, vaksinasi bertujuan mengurangi risiko infeksi berat dan komplikasi.
“Fungsinya mencegah terjadinya infeksi berat, mengurangi risiko komplikasi juga,” ujarnya.
Vaksin influenza pada umumnya tersedia di rumah sakit dan diberikan kepada kelompok tertentu, termasuk masyarakat yang akan melaksanakan ibadah haji.
Karena virus influenza memiliki kemampuan bermutasi, vaksinasi perlu dilakukan secara berkala sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Dr. Bayu mengingatkan masyarakat agar tidak panik, namun tetap waspada terhadap perkembangan gejala influenza.
Keluhan ringan pada sebagian pasien dapat membaik dengan sendirinya. Namun, apabila muncul sesak napas, tubuh semakin lemah, demam berkepanjangan, perubahan kondisi yang semakin berat, atau tanda gangguan pernapasan, masyarakat disarankan segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Langkah tersebut penting, terutama bagi lansia, anak-anak, penderita asma atau PPOK, serta pasien yang memiliki penyakit penyerta, untuk mencegah infeksi berkembang menjadi komplikasi serius.
Masyarakat Bangka Tengah kini diminta tidak menganggap remeh gejala influenza. Waspada, gun
akan masker ketika sakit, kurangi aktivitas di luar rumah, dan segera periksa apabila kondisi semakin memburuk.

















