Scroll untuk baca artikel
    Opini

    Pemerintah Provinsi Babel Minta Alok, Gelik Aik Yok

    ×

    Pemerintah Provinsi Babel Minta Alok, Gelik Aik Yok

    Sebarkan artikel ini
    Example 468x60

    Oleh: Renaldi

    Ada satu kebiasaan yang belakangan ini cukup menarik untuk diperhatikan. Setiap ada capaian, kegiatan, penghargaan, program atau keberhasilan pemerintah daerah, muncul pula gelombang ucapan yang dibagikan secara beramai-ramai.

    Satu orang membuat ucapan, yang lain ikut membagikan. Dari satu grup WhatsApp pindah ke grup lainnya. Dari status WhatsApp merambat ke Facebook. Dari akun pribadi bergeser ke akun resmi.

    Lama-lama penuh layar kita dengan ucapan.

    Tidak salah memang.

    Pemerintah tentu berhak menyampaikan capaian kepada masyarakat. Publik juga berhak mengetahui apa saja yang sudah dikerjakan pemerintah.

    Tapi persoalannya bukan sekedar apa yang disampaikan, melainkan bagaimana cara menyampaikannya.

    Di Bangka Belitung, ada satu istilah yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup dalam maknanya “minta alok.”

    Kalau anak kecil minta alok, kite tentu paham.

    Kadang baru diberi sesuatu sedikit, sudah dipamerkan. Dapat mainan, ditunjukkan ke kawan. Dapat duit, diceritakan. Dapat pujian, besok diceritakan lagi.

    Namanya juga anak kecik.

    Yang menjadi pertanyaan, bagaimana kalau kebiasaan “minta alok” itu justru terlihat dari orang-orang yang seharusnya sudah dewasa dan sedang menjalankan pemerintahan?

    Bukan berarti pemerintah tidak boleh menyampaikan keberhasilan.

    Boleh.

    Bahkan harus.

    Tetapi pemerintah yang matang seharusnya tidak sekedar sibuk menunjukkan bahwa dirinya berhasil. Pemerintah juga harus mampu menunjukkan apa perubahan yang benar-benar dirasakan rakyat.

    Karena rakyat yang paling dasar tidak membutuhkan flayer ucapan.

    Tapi rakyat membutuhkan hasil yang nyata.

    Seperti halnya, Rakyat ingin jalannya bagus.

    Rakyat ingin mendapatkan pekerjaan.

    Rakyat ingin hidupnya benar-benar lebih baik dan sejahtera.

    Rakyat ingin birokrat yang melayani dengan sepenuh hati tanpa berbelit-belit.

    Kalau pembangunan diklaim berhasil, rakyat tentu ingin melihat perubahan itu dengan mata kepala sendiri.

    Bukan sekadar melihatnya dari poster, video, desain ucapan atau rangkaian kalimat penuh pujian.

    Jangan Sampai Pemerintah Sibuk Memuji Diri Sendiri.

    Fenomena share-share ucapan pegawai pemerintahan sebenarnya bukan persoalan besar apabila dilakukan sewajarnya.

    Yang menjadi persoalan ketika ruang publik justru dipenuhi oleh pemerintah yang seolah-olah sedang memberikan tepuk tangan kepada dirinya sendiri.

    Hari ini pejabat mengucapkan selamat kepada pemerintah.

    Besok pegawai mengucapkan selamat kepada pejabat.

    Lusa akun lain ikut mengucapkan selamat.

    Kemudian dibagikan lagi.

    Akhirnya masyarakat seperti sedang menonton satu pertunjukan panjang:

    Pemerintah memuji pemerintah.

    Padahal ada hal yang jauh lebih penting.

    Apakah masyarakat ikut merasa berhasil?

    Sebab keberhasilan pemerintah bukanlah milik pemerintah semata.

    Itu uang rakyat.

    Itu mandat rakyat.

    Itu jabatan yang diberikan melalui mekanisme pemerintahan.

    Maka setiap capaian memang layak disampaikan, tetapi tidak perlu sampai terasa seperti pemerintah sedang berkata kepada rakyat:

    “Nah, lihatlah kami. Kami sudah hebat.”

    Sebab rakyat bisa menilai sendiri.

    Rakyat punya mata.

    Rakyat punya pengalaman.

    Rakyat punya kehidupan sehari-hari.

    “Gelik Aik Yok”

    Ada istilah Bangka yang juga menarik untuk kita renungkan “gelik aik yok.”

    Air mengalir begitu saja.

    Tidak perlu banyak suara.

    Tidak perlu berteriak bahwa dirinya sedang mengalir. Ia cukup mengalir dan memberikan manfaat. Begitu pula pemerintahan.

    Kalau memang bekerja, biarlah hasilnya mengalir kepada masyarakat.

    Kalau pembangunan memang berhasil, biarlah masyarakat yang merasakan.

    Kalau pelayanan memang baik, biarlah masyarakat yang bercerita.

    Kalau ekonomi memang tumbuh, biarlah pedagang, nelayan, petani, pekerja dan pelaku usaha yang merasakan dampaknya.

    Tidak perlu setiap keberhasilan dijadikan panggung untuk mengolok-olok diri sendiri dengan berbagai pujian.

    Sebab semakin sering pemerintah memuji dirinya sendiri, semakin besar pula pertanyaan publik:

    “Betulkah sudah sebagus yang diceritakan?”

    Di situlah pemerintah harus berhati-hati.

    Komunikasi publik bukan sekadar membangun citra. Komunikasi publik seharusnya menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat.

    Jangan sampai yang dibangun hanya citra, sementara realitas di lapangan berjalan dengan cerita yang berbeda.

    Pemerintah Bukan Anak Kecik,

    Anak kecik wajar minta alok.

    Wajar pula kalau dia senang dipuji.

    Tetapi pemerintah bukan anak kecik.

    Pemerintah memegang anggaran besar, kewenangan besar dan tanggung jawab yang besar.

    Maka ukuran keberhasilannya juga harus besar.

    Bukan berapa banyak poster ucapan yang beredar.

    Bukan berapa banyak pegawai yang membagikan postingan.

    Bukan berapa banyak komentar “luar biasa”, “mantap”, atau “sukses selalu”.

    Ukuran keberhasilan pemerintah seharusnya sederhana:

     

    Apakah rakyat menjadi lebih sejahtera?

    Kalau rakyat masih mengeluhkan harga kebutuhan pokok, lapangan pekerjaan, pelayanan, infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari, maka pekerjaan pemerintah sebenarnya belum selesai.

    Di situlah pemerintah perlu lebih banyak bekerja daripada meminta alok.

    Lebih banyak mendengar daripada memuji diri sendiri.

    Lebih banyak turun ke lapangan daripada sibuk membuat narasi.

    Dan lebih banyak memberikan bukti daripada membuat klaim.

    Kritik Bukan Berarti Membenci

    Kritik kepada pemerintah juga jangan langsung dianggap sebagai bentuk kebencian.

    Justru kritik adalah salah satu cara masyarakat ikut menjaga pemerintahan.

    Kalau ada yang kurang, disampaikan.

    Kalau ada yang salah, dikoreksi.

    Kalau ada yang bagus, tentu patut diapresiasi.

    Namun apresiasi tidak harus berubah menjadi budaya tepuk tangan massal setiap saat.

    Pemerintah yang kuat bukan pemerintah yang hanya mendapatkan pujian.

    Pemerintah yang kuat adalah pemerintah yang sanggup menerima kritik, mengevaluasi kekurangan, kemudian memperbaikinya.

    Karena rakyat tidak membutuhkan pemerintah yang sempurna.

    Rakyat membutuhkan pemerintah yang mau bekerja dan mau memperbaiki diri.

    Sudahlah, Jangan Minta Alok Terus

    Mungkin sudah waktunya kita mengubah sedikit budaya komunikasi pemerintahan.

    Tidak semua keberhasilan harus dirayakan secara berlebihan.

    Tidak semua kegiatan harus dibuat seolah-olah luar biasa.

    Tidak semua capaian perlu dipuji berulang-ulang.

    Sampaikan saja apa adanya.

    Ini yang sudah dikerjakan. Ini anggarannya. Ini hasilnya. Ini manfaatnya. Ini kekurangannya. Dan ini yang akan diperbaiki.

    Sederhana.

    Jujur.

    Terukur.

    Itulah komunikasi pemerintah yang dewasa.

    Karena pada akhirnya, rakyat Bangka Belitung tidak membutuhkan pemerintah yang pandai “minta alok.”

    Rakyat membutuhkan pemerintah yang mampu membuat kehidupan mereka lebih elok.

    Kalau memang sudah bekerja dan hasilnya nyata, gelik aik yok.

    Mengalir saja.

    Biar rakyat yang merasakan.

    Biar rakyat yang menilai.

    Dan kalau memang bagus, rakyat sendiri yang akan bilang:

    “Nah, ikak baru pemerintah yang elok.”

    Example 120x600
  • panengg
  • https://beras11.club/