Share

Penulis : Putri Rahmawati (Pelajar SMAN 1 Simpangrimba)

Namaku Putri Rahmawati, aku biasa dipanggil Putri. Terlahir dari keluarga yang sederhana, ayahku adalah seorang petani dan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga. Aku mempunyai dua orang adik, yaitu adik laki-laki dan perempuan.

Aku tinggal di Trans 1 Simpang Rimba Rt 03/Rw 02, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka-Belitung. Aku bersekolah di sebuah sekolah yang bernama SMA Negeri 1 Simpang Rimba dan aku duduk di kelas X3. Di sinilah aku menimba ilmu di beberapa bulan terakhir ini, sekarang telah semester II.

Kelas X 3 itulah kelasku, di sini aku habiskan waktuku untuk belajar, bercerita, dan berbagi pengalaman kepada teman-teman sekelasku.

Pak Karoma adalah wali kelasku. Beliau adalah guru Penjaskes. Beliau sangat ramah, baik, dan sosok guru yang santun. Beliau berasal dari Toboali.

Di kelas ini siswa berjumlah 29 orang, hampir semua siswa telah kukenal, yang dulunya ada yang tak pernah kulihat, tetapi setelah beberapa bulan kita bersama, aku mulai mengenal mereka.

Celotehan tingkah-laku mereka yang bawel, judes, suka marah marah, ceplas-ceplos, jutek, kepo, dan masih banyak lagi, deh dan bahkan nomor urutnya pun aku sudah hafal.

Huh, lelah rasanya mengingat tingkah-laku mereka semua. Ada yang selalu sedih, bahagia, matanya menatap dengan tajam, cengengesan, dan bahkan galau diputuskan pacar.

Itulah hal yang biasa kulihat dari teman-teman sekelasku. Tapi itu semua adalah sebuah memori yang tak bisa kulupakan dari mereka semua.

Huh, mereka lagi! Itulah yang bisa terbayang di benakku ketika kuinjakkan kakiku di dalam kelas ini. Keributan dan keasyikan seakan milik mereka semua, bahkan ketika ada guru seisi ruangan tak ada yang sadar karena mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Biasanya terbayang di benakku tingkah laku mereka semua yang tidak terduga. Mulai dari ada yang bolos, terlambat masuk kelas, dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak bisa mereka hindari seperti menyontek, main hp, dan lainnya.

Tak bisa kulupakan paras-paras teman-teman sekelasku. Mulai dari Neli biang lawak, yang sangat lucu dan disukai oleh guru biologi, karena tingkah lakunya itu, Hendimas si tukang bolos, yang pandai membuat 1001 alasan, Triyana si pemberontak tapi rajin masuk kelas, Firman teman semua wanita, karena tingkah lakunya yang suka becanda, menghibur kami sekelas, Riskia si sabar dan tidak banyak omong, Nelly si lebay, Riski si narsis, Angelika si muka murung –galau, Diah Triastuti si ceria walaupun sedikit kelihatan galau dan masih banyak lagi sifat-sifat teman-teman kelasku yang lainnya .

Waktu demi waktu telah berganti, hari demi hari terus berganti, dentingan jam terus berbunyi, ayam-ayam pun bernyanyi menyambut indahnya pagi yang telah menjadi warna tersendiri dalam hidupku.

Kualunkan kakiku menuju singgasana ilmu, yang insyaAllah gemilang dan harus melihat muka-muka sekelasku lagi. Itulah hal yang harus kujalani sebagai seorang pelajar yang menempati sebuah ruang kelas yang sudah menjadi bagian dari hidupku untuk meraih cita-cita dan membanggakan kedua orangtuaku. Iitulah misi terbesar di dalam hidupku. Bisa membanggakan orangtuaku membalas jasa-jasa mereka yang telah membesarkanku dengan penuh bimbingan, dan kasih sayang.

Ketika aku sampai di sekolah, tepatnya di kelasku, aku biasa merasa salamku dihiraukan dengan teman-teman sekelasku yang masih pagi sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang sibuk mengerjakan tugas, ngegosip -ngerumpi, main game, dan masih banyak lagi deh pokoknya.

Pelajaran biasa dimulai pukul 07.30, pada waktu aku masuk pun suasana kelasku ribut banget dan biasanya mulai diam ketika guru masuk di kelas untuk mengajar, yang hanya terdengar suara ketua kelas yang memecah semua keheningan.

“Seluruhnya siap gerak, beri salam kepada Ibu Guru!” kata ketua kelas sih Firman

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!” kata kami serentak.

Keheningan mulai terpecah lagi menjadi keributan, ketika selesai disiapkan para siswa memulai lagi pembicaraan. Entah apa yang mereka bicarakan tapi setidaknya mereka harus menghargai guru bukan, pikirku dalam hati.

Ketika pelajaran dimulai, aku biasa berpikir dengan tingkah laku teman-temanku yang nakal-nakal sebenarnya mereka ingin sekolah atau tidak, entahlah itu adalah urusan mereka. Tapi bagiku, kami sebagai pemuda harapan bangsa harus bersungguh-sungguh untuk bisa menjadi “orang”, bisa membuat Negara Indonesia menjadi maju dan bebas dari hutang yang banyak banget.

Semoga harapanku ini bukan hanya menjadi tulisan tetapi menjadi kenyataan agar kelak bisa bermanfaat. Baik itu untuk diri sendiri, orangtua, guru, sekolah, yang paling penting untuk Indonesia tercinta. Amin.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *