Alinea Dialektika Rasa dan Prasangka Pemimpi dari Anak Pesisir

0
Share

Penulis : Anash Barokah, S.Pd., S.IP (Ketua Persatuan Mahasiswa Bangka Selatan Periode 2019-2020) 

Ini adalah sebuah curhatan isi hati anak negeri dari daerah pesisir yang katanya Pulau Seribu Warung Kopi dan Sejuta Pelangi dan terkenal dengan Terasi. Bahkan Negeri para pemimpi yang rindu akan pemimpin peduli dan mengabdi.

Tahun 2024 adalah perang para elit berdasi, yang miskin jadi penonton dan makin bingung memilih, lebih berhati-hati sudah pasti. Karena 22 tahun sudah usia Negeri Junjung Besaoh ini. Bukan lagi usia remaja labil yang bingung akan potensi dan jati diri. Tetapi lebih mencari sosok nahkoda petarung pemberantas korupsi bahkan bisa memakmurkan inti kota dan pelosok negeri ini.

Jangan terbuai amplop dengan nominal besar dalam sehari, karena itu adalah boomerang oligarki menguasai dan membunuh diri perlahan sampai mati. Jangan apatis, egois dengan diri sendiri sampai lupa ada anak cucu nanti yang masih ingin menikmati bahkan memajukan negeri dengan potensi diri dan yang dimiliki negeri ini.

Retorika sang politikus, bak gula merah bertaburan, klise yang membuatnya terlihat sekilas menggelikan namun tetap menjadi suatu ketertarikan dalam psikologi masyarakat. Ditambah balut keagamaan dan pergerakan yang lebih masif menjadikan tokoh agama sebagai aktor kemenangan dalam pemilihan.

Mereka berteriak lantang, perdamaian dan kesejahteraan, namun di satu sisi simpatisan tetap kelaparan. Teriak lantang kebenaran namun sisi lain menyimpang dan dijadikan pembenaran. Seperti kembali ke masa penjajahan Belanda, kurang terasa memang tapi bertahan lama dijajah oleh kaum yang mengatasnamakan perubahan.

Jangan terlalu absolut. Komunis tumbang karena D.N. Aidit merasa besar hati dan tak ada lagi nasihat yang bisa menahan otaknya untuk bergerak dan bertindak. Jangan merasa super power sebab Jepang bungkam karena ideologi yang ingin menguasai dunia kala perang dunia kedua. Sampai Amerika mengebom Hiroshima.

Jangan terlalu mengumbar janji, sebab ada hutang dikala janji-janji yang harus dibayarkan. Bahkan sampai Sangsakala berkumandang, hutang ya tetap menjadi hutang tanpa berubah menjadi kutang.

Kami adalah barisan yang dalam proses belajar bukan untuk dipekerjakan dengan iming-iming kesuksesan tanpa dengan belaian regulasi sang Soekarno dan Hatta. Kami adalah barisan generasi multitalenta tapi bukan untuk diperintah-perintah. Dan kami adalah barisan pemuda yang mempunyai mimpi menafkahi sang wanita. Bukan mengadabdi kepada dinasti sang propaganda.

Manis memang bahasanya ‘Dinda kita berjuang bersama-sama, Kanda akan berjuang sampai habis untuk Dinda, kalian harus sukses dengan segala keahalian kalian Dinda, tetap berproses’ Kalau kata orang Bangka ‘Ngerapek’ (Omong Kosong) itu Kanda, cukup bagus packaging yang terlontar dalam sebuah lisan namun tetap dengan kesan lama, Kolonialisme.

Semakin dekat dengan perkara menang dan kalah, menang adalah sebuah keharusan sampai dititik menghalalkan segala cara dan kalah adalah sebuah peraturan yang dianggap haram.

Terima kasih telah mengajarkan kami untuk pintar dan mulai menggunakan akal bukan lagi hati untuk menilai sampai kami paham bahwa kami adalah kaum yang diakal-akali selama ini.

Pesta demokrasi semakin tak terealakan, itu yang dinanti para penjuri negeri, politikus semakin pintar, penyelengara harus semakin berinovasi, pengawas makin memperbanyak CCTV. Sehingga terciptanya demokrasi yang murni.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *