Example floating
Example floating
Bangka SelatanCerita Pendek

Cerpen: Ayahku Pahlawanku

×

Cerpen: Ayahku Pahlawanku

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Penulis : Putri Rahmawati (Siswi SMAN 1 Simpangrimba)

 

Example 300x600

“Nak, kita makan nasi sayur sebentar yuk, di warung makan yang di sebelah sana tuh!”

“Ah, enggak mau aku, Yah. Aku enggak lapar, kok. Ayah saja yang ke sana.”

“Enggak lapar bagaimana? Hari ini sudah sore, sedangkan sejak pagi tadi kamu belum makan.”

Dari sudut pintu warung makan, terlihat seorang ayah dan anak gadisnya sedang berjalan seraya menatap hidangan. Keduanya mungkin sudah sangat lapar, namun sang anak sedang belajar berasa kuat.

Ya. Anak gadis itu adalah aku Putri, sedangkan lelaki itu adalah ayahku. Tepatnya kami pergi berjalan tak jauh dari pom bensin, yang tidak jauh dari warung makan.

“Mas, berapa harga nasi sayur di sini?”

“Enam ribu, Pak.”

“Oke, tolong buatkan satu porsi, ya.”

“Satu saja, Pak?”

“Iya.”

Benar, aku sudah tahu, kok. Ayah pasti memesankan nasi sayur untukku. Padahal aku tahu beliau sejak pagi tadi belum makan. Ayahku dari dulu memang begitu. Beliau begitu pontang-pantingnya menyekolahkanku.

“Putri anak gadis ayah, ini nasinya sudah datang. Makan gih!”

“Ah, enggak mau, Yah. Masa cuma nasi sayur doang. Minimal nasi telur kek, atau nasi lauk ayam gitu.”

“Hemm. Kamu kan tahu sendiri, Nak. Uang Ayah cuma segini. Syukuri saja dulu, mudah-mudahan kedepannya gaji Ayah naik.”

Aku sejatinya tidak pilih-pilih soal makan. Sengaja aku menolak, karena jika tidak begitu, ayahku tidak akan pernah mau makan.

“Nak, ayolah, makan. Nanti kamu sakit lho, Ayah yang repot.”

“Iya, deh.”

Hemm. Ayah sudah memaksaku. Mau apa lagi. Aku makan dua suapan saja rasanya sudah cukup.

“Sudah, ah. Bumbunya terlalu asin, Yah. Jadi enggak selera makan akunya.”

“Masa sih. Coba Ayah makan. Perasaan ini warung nasi padang lho.”

Aku sengaja berdusta, karena jika tidak begitu ayahku tiada bakal mau makan.

“Nasinya enak kok, Nak. Sayurnya juga. Mana ada yang keasinan?”

“O, iya, Yah andai saja dulu aku sekolah di tempet bibik di Jawa, ‘kan bisa sekolah sambil kerja terus uangnya bisa buat Ayah sama Mamak.”

“Iya, Nak, tetapi apa boleh buat nenekmu yang tak ingin kamu pergi dan tak ingin kehilanganmu. Jadinya kamu terpaksa sekolah di sini. Nanti ya, Nak, insyaallah kalau kamu lulus SMA kamu kuliahnya di Jawa ya, Nak, di tempat bibikmu.”

“Tidak perlu, Ayah. Aku mau kuliah di sini saja … biar bisa sama Ayah dan Mamak terus dan bisa jagain Nenek juga, Yah.

“Iya, Nak! Tetapi kalau kamu kuliah di sini, kamu tau sendiri ‘kan kondisi keuangan kita seperti apa … Ayah tak mampu membiayainya, Nak. Jadi kamu kuliahnya nanti di tempet bibikmu ya, Nak.”

“Ayah yakin, Nak. Kamu pasti bisa menjalani rintangan ini. Ayah mau melihatmu mengenakan topi wisuda, Nak. Jangan hancurkan cita-citamu dan impianmu untuk menjadi seorang Polwan. Dulu kamu bilang sama Ayah bahwa kamu ingin jadi seorang Polwan, ‘kan? Bagaimana bisa kamu melupakan inginmu yang Ayah dengar nyaris setiap malam?”

“Benar, Ayah. Aku ingin sekali jadi Polwan dan membuat Ayah bangga padaku.”

“Pokoknya kamu harus kuliah di Jawa, Nak, ya tempat bibikmu, Ayah yakin kalau kamu di Jawa kamu pasti hidup bahagia dan sukses yang bisa membuat Ayah bangga.”

Aku sedih. Rasanya hati ini begitu tergores bahkan tercabik-cabik saat aku meratapi keadaan. Entah mengapa dunia ini serasa begitu kejam. Tapi biar sekejam apa pun, aku tetap mencintai ayahku.

“Baik, Yah, aku mau kuliah di tempet bibik di Jawa sana. Sudah, Ayah makan dulu sampai selesai. Hari ini Ayah tidak perlu lembur. Kita pulang dan istirahat, ya, Yah. Aku bakal mau kok kuliah di tempet bibik. Aku bakal menggapai cita-citaku, dan aku bakal membuat Ayah bangga padaku, anak perempuan pertamamu ini.”

Aku tidak lagi bisa menolak. Padahal hati ini begitu ingin untuk menyerah, tapi Ayah selalu saja menguatkanku. Ayah benar-benar pahlawanku.

Ayahku itu adalah benar benar sosok pahlawan yang tidak kenal lelah, tidak kenal capek. Hujan, badai, maupun panas ia lalui untuk mencari nafkah demi keluarganya dan anak-anaknya. Walaupun terkadang Ayah cuek terhadapku dan suka marah akan tetapi di balik sikap cueknya tersebut ayahku itu sangat istimewa, lebih istimewa dari apa pun di dunia ini. Hanya sosok Ayah yang menjadi panutan, Ayah tidak pernah mengeluh di depan anak perempuan pertamanya. Saat sakit pun ia masih terlihat tegar dan semangat demi kebahagiaanku.

Ayahku adalah sosok yang luar biasa. Ia tak ingin anak perempuan pertamanya mengkhawatirkannya. Ia ingin anak perempuan pertamanya belajar betul-betul dan tak perlu memikirkan berapa pun biayanya. Bagi aku beliau adalah harta termahal yang ada di hidupku. Seorang ayah yang selalu sabar dan ikhlas menerima semua yang terjadi di kehidupan ini.

“Hidup itu harus dijalani dengan ikhlas dan selalu bersyukur, tapi yang jadi nomor satu itu adalah sebuah kejujuran. Tekun belajar dan jangan pernah ninggalin sholat. Ayah hanya ingin liat kamu Putri … anak perempuan pertama, harapan Ayah satu satunya … untuk sukses, ngga perlu apa-apa,” pesan ayahku.

Aku berjanji sejak hari ini dan seterusnya bakal melakukan yang terbaik. Aku tidak akan pernah lelah dalam bersekolah dan selalu berusaha agar suatu saat nanti aku bisa menggapai semua cita-citaku dan impianku. Agar bisa membuat ayahku dan ibuku bangga kepadaku. Aku pasti bisa membuat Ayah dan ibuku bangga suatu saat nanti, sampai pada akhirnya ayah dan ibuku berkata, “Polwan itu adalah anak perempuan pertama kami, yang selama ini sangat kami sayangi dan kami banggakan!”

TAMAT

 

 

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *