Share

Penulis : Khoiriah Apriza (Siswi SMAN 1 Airgegas)  

 

Aku duduk di bawah pohon Ketapang yang rindang. Menutup mata, sambil menikmati belaian lembut angin di sore hari. Aku memeluk kedua lutut ku erat. Menunduk dan menumpahkan rasa sesak yang selama beberapa hari ini menyiksa ku.

Sebuah tangan memegang pundak ku pelan seraya mengelus nya. Bukan nya berhenti menangis, tangis ku malah semakin kencang. Apa lagi, ketika ia membawa ku ke pelukan nya. Wajah nya memang mirip dengan orang yang ku rindukan, Tetapi hangat nya pelukan tentu berbeda.

“Sudah, jangan menangis terus. Pulang yuk. Kasian Bapak di rumah,” Ujar nya yang masih memelukku.

Rasa nya, bibir ini tak mampu untuk menjawabnya. Hidung yang memerah, serta mata yang bengkak karena terlalu lama menangis. Aku hanya mengangguk kan kepala ku pelan. Kemudian Bibi membawa ku pulang ke rumah yang penuh akan kenangan indah, sekaligus menyesakkan bagi ku.

Bibi Narida, Adalah adik dari ibu ku. Wajah nya sedikit mirip dengan ibu ku, yang baru meninggal tiga hari yang lalu karena penyakit jantung.

Aku tinggal bersama Bapak ku yang sekarang sudah tua. Ku lihat wajah nya yang keriput, bibir nya yang pucat, serta mata nya yang sayu sambil memandangi bingkai foto ibu yang memeluk bapak sambil tersenyum.

Terlihat, air mata menetes membasahi pipinya. Aku mendekat, dan berjongkok di depannya yang sedang duduk di kursi. Aku memegang satu tangan nya yang tak menyentuh bingkai. Aku mencium nya dengan lembut. Kemudian mengusap nya pelan.

“Pak, jangan menangis ya. Kita ikhlaskan Ibu ya Pak,” ujar ku sambil menahan air mata agar tak menetes membasahi pipi.

“Bapak mau tidur,” ucap Bapak, kemudian berlalu meninggalkan ku sambil membawa bingkai foto tersebut.

Aku memandang sendu ke arah kamar Bapak yang sudah terkunci. Aku menunduk, kemudian menetes kan air mata ku.

“Jangan menangis. Kasian Ibu mu. Enggak baik meratapi kematian. Ikhlaskan Ibu mu. In syaa Allah, surga adalah tempat nya sekarang. Tugas Ayana sebagai seorang anak, adalah membuat Bapak bahagia,” kembali terngiang ucapan Bibi tadi di kamar ku.

Baiklah, mungkin ini sudah menjadi takdir nya. Benar kata Bibi, aku masih ada Bapak yang harus aku bahagia kan. Aku harus kuat untuk Bapak. Aku, harus mengikhlaskan Ibu. Aku tau ini berat, tapi in syaa Allah, Aku bisa melalui nya.

***

Keesokan harinya, aku terbangun dari tidurku. Aku segera mandi, kemudian masak untuk sarapan pagi. Hari ini aku tidak sholat, Karena kedatangan tamu bulanan.

Sambil menunggu ikan yang di ungkep, aku menuju kamar Bapak ku. “Seperti nya, Bapak sudah bangun,” ujar ku dalam hati ketika melihat pintu kamar yang sedikit terbuka.

“Bu, Ibu? Di mana sejadah bapak?” tanya bapak ku sambil keluar kamar.

“Sejadah nya ada di dalam lemari pak,” ujar ku dengan menatap sendu bapak. Karena usia Bapak sudah tua, mungkin Bapak lupa jika istri nya sudah meninggal.

“Ibu kamu mana?” Tanya Bapak yang memasuki kamar nya kembali. Kemudian keluar dengan sejadah di pundak kanannya.

“Melihat bapak seperti ini, sungguh menyakitkan Allah,” ujar Ayana dalam hatinya.

“Pak, sudah azan subuh, Nanti terlambat berjamaah,” ujar ku mengalihkan pembicaraan.

“Iya sudah, Bapak berangkat dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.”

“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh,” jawab ku.

***

Kini aku duduk bersandar di pohon Ketapang tempat favorit ku bermain saat kecil hingga sekarang.

Suara ombak terdengar merdu di telinga ku. Angin yang berhembus lembut mengenai wajah ku. Hingga hijab pashmina ku ikut melambai-lambai karena angin.

Aku melirik jam tangan ku, sudah menginjak pukul lima sore. Biasa nya jam segini, Ibu akan menjemput ku lalu memarahi ku sambil membawa sapu lidi andalan nya.

“Ayana! Sudah sore, ayo pulang! jangan main terus kerjaan nya!” ujar ibu ku sambil mengangkat daster nya yang kedodoran.

“Ampun Bu, Ayana pulang,” ujar ku kemudian lari di pesisir pantai mengindari amukan ibu ku.

Tak jarang, para teman-teman ku menertawai ku saat aku di kejar oleh ibu ku.

Jika dulu aku tertawa mengingat kenangan itu, sekarang malah air mata yang menghiasi wajah ku.

Aku bangkit dari duduk ku. Kemudian melepas sandal dan berlari di pinggir pantai. Terasa bebas, dan beban ku sedikit terangkat.

***

“Ayana, Ibu kamu dimana ya? Bapak dari tadi panggil-panggil kok enggak ada?” Pertanyaan itulah yang menyambut kedatangan Ayana yang baru pulang dari pantai.

Ayana tak langsung menjawab, ia memejamkan mata nya pelan kemudian membuka nya kembali. Ia mendekati bapak nya yang duduk di kursi ruang tamu.

Ayana bersimpuh sambil memegangi kedua tangan bapak nya. Ayana mencium nya dengan khidmat. Tanpa sadar, tangan bapak nya basah karena air mata Ayana.

Terdengar Isak tangis Ayana. Bapak mengelus pelan kepala Ayana yang terbalut hijab pashmina biru.

“Kenapa nangis?” Tanya Bapak nya. Ayana tak menjawab nya, ia masih belum berhenti menangis. Namun, setelah beberapa saat akhirnya tangis Ayana reda.

“Pak, Ibu sudah kembali kepada Allah,” Akhirnya, Ayana bisa menjawab pertanyaan bapak nya.

“Kembali?” tanya bapak nya dengan bingung.

Ayana meneteskan air mata nya kembali, namun langsung di hapus dengan tangan kanannya. “Ibu sudah meninggal pak,”

“Ibu sudah meninggal ya?” tanya Bapak, tanpa sadar air mata membasahi pipinya. Bapak terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya. Entah mengapa Ayana mendengar, dibalik tawa Bapak tersimpan begitu banyak jutaan luka.

“Bapak lupa kalau Ibu sudah meninggal,” ujar nya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Pak, kita ikhlaskan Ibu ya. In syaa Allah, Surga adalah tempat ibu berada,” Ujar Ayana sambil mengelus tangan bapak nya yang sudah keriput.

“Aamiin,” Setelah mengucapkan itu, Bapak pergi meninggalkan Ayana di ruang tamu sendiri. Bapak memasuki kamar, kemudian menutup nya.

Ayana kemudian bangkit dari duduk nya, ia menuju kamar bapak nya. Terdengar suara tangisan yang pilu dari balik kamar. Ayana yang mendengarkan, hanya bisa ikut menangis. Hati Ayana bagikan tergores pisau tajam kala melihat Bapak nya menangis karena kepergian cinta sejati nya, Yaitu ibu.

Ayana memilih pergi meninggalkan kamar bapak nya. Ia akan pergi mandi kemudian segera masak untuk makan malam.

Setelah beberapa jam kemudian, Ayana kembali ke kamar Bapak nya. Namun tidak terdengar lagi suara tangisan Bapak nya. “Mungkin lagi tidur,” pikir Ayana.

Ia segera membuka pintu kamar. Terlihat Bapak nya tiduran di atas sejadah dengan bingkai foto ibu nya yang ia dekap dengan kedua Keduanya. Mata Bapak nya terpejam. Terlihat bekas air mata yang membasahi pipi seperti habis menangis.

“Pak, makan malam udah siap. Kita makan dulu yuk,” Ajak Ayana. Namun bapak nya tak merespon.

Ayana kembali membangunkan bapak nya, tapi tetap tidak mendapatkan respon. Jantung Ayana berdebar kencang, Kedua mata nya berkaca-kaca. Dengan tangan gemetar, Ayana mendekatkan tangan kanannya ke hidung bapak nya. Tidak ada hembusan nafasnya. Dunia Ayana hancur untuk yang kedua kalinya. Apa ini Allah? Setelah kepergian Ibu nya yang baru empat hari, kini bapak nya ikut menyusul nya?

“Bapak! Jangan pergi tinggalkan Ayana Pak!” Teriak Ayana dengan air mata berlinang, Ia memeluk tubuh bapak nya erat. Ia menggerakkan tubuh bapak nya berharap bisa membangun kan bapak nya.

“Allah, aku harap ini hanya mimpi. Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini!” Teriak Ayana dalam hati nya.

“Bapak!” Teriak Ayana dengan keras sambil menangis.

“Ada apa Ayana? Bapak kamu kenapa?” Tanya Bibi nya sambil memasuki kamar.

“Bapak sudah kembali kepada cinta sejati nya Bi,” Jawab Ayana sambil memandangi wajah bapak nya dengan air mata membasahi pipinya.

*Selesai*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *