BEKAWAN.CO.ID, SUNGAISELAN – Generasi muda Bangka Belitung diajak balik ke akar. Lewat program “Pangan Lokal Goes to School”, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kep. Babel bersama Dinas Pertanian Bangka Tengah menyapa siswa SMA Negeri 2 Sungaiselan, Jumat 12/06/2026.
Kegiatan ini bukan seminar membosankan. Siswa langsung diajak kenal singkong, pisang, pepaya, kacang-kacangan, sampai cara mengolahnya jadi menu B2SA: Beragam, Bergizi, Seimbang, Aman. Ada edugames, kuis interaktif, dan sesi tanam pekarangan yang bikin kelas jadi lebih hidup.
Turut hadir Ketua TP PKK Provinsi Babel Noni Arsani Hidayat, Kadis Pertanian Babel, Kadis Pertanian Bangka Tengah, perwakilan TP PKK Bateng, Cabdin Wilayah I, Kecamatan Sungaiselan, pihak sekolah, dan ratusan siswa.
“Jangan sampai anak Babel lebih hafal burger daripada kemplang dan lempek”
Itu pesan tegas Noni Arsani Hidayat saat membuka acara. Menurutnya, pangan lokal bukan cuma soal perut, tapi identitas dan jati diri daerah yang wajib dijaga.
“Generasi muda harus kenal pangan lokal sebagai kearifan daerah kita. Jangan sampai kita lebih mengenal makanan dari luar dibanding yang tumbuh di halaman sendiri. Pangan lokal adalah kekayaan budaya yang harus diwariskan,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan langkah sederhana: menanam di pekarangan rumah. “Di rumah saya ada singkong, pisang, pepaya, kacang-kacangan. Lahan sempit bukan alasan. Menanam sendiri bikin kita lebih menghargai makanan yang kita makan setiap hari,” tambahnya.
Kolaborasi Pemprov dan Pemkab ini punya target jelas: menanamkan kesadaran sejak sekolah. Tujuannya, siswa bangga konsumsi pangan lokal, paham gizi B2SA, dan siap jadi garda depan ketahanan pangan keluarga.
Antusiasme siswa terlihat jelas. Dari kuis rebutan mic sampai lomba tebak jenis umbi, kelas jadi ramai. Banyak yang baru sadar kalau “makanan nenek moyang” ternyata bisa kekinian dan bernutrisi tinggi.
Dinas Pertanian berharap, setelah kegiatan ini siswa tak hanya jadi penikmat, tapi juga pelaku. Mulai dari menanam di pot bekas, mengolah singkong jadi camilan sehat, sampai mengajak keluarga konsumsi pangan lokal setiap hari.
Karena ketahanan pangan daerah, berawal dari piring anak-anaknya. (Robie)


















