Share

Penulis : Putri Rahmawati (Siswi SMAN 1 Simpangrimba)

Namaku adalah Laras. Aku punya seorang sahabat bernama Hamida. Aku tak mengerti kenapa semua teman-temanku membenci dia dan tak suka padanya? Padahal dia anaknya baik dan ramah suka juga menolong kepada teman- teman kelasnya? Mungkin karena mereka iri kepadanya karena dia selalu dekat dengan guru dan disayang.

Tetapi apakah kita harus menyalahkan Hanifa karena ia selalu menjadi kesayangan gurunya, apakah salah kita ingin dekat dengan guru kita, tentu tidak bukan? Namun aku sebagai seorang sahabat hanya bisa menyemangati dan mendukungnya.

Kring… ……kring suara lonceng sepedaku berbunyi, terlihat dari kejauhan Hanifa yang sedang berpamitan dengan ibunya.

“Nak ingat jangan dengarkan teman-temanmu yang senang mengejekmu, karena sebenarnya mereka tak tahu apa-apa tentang dirimu,” ucap Ibu Hanifa.

“Baik bu,” jawab Hanifa dengan ramah yang penuh senyum. Setelah berpamitan aku dan Hanifa pun berangkat ke sekolah tercinta yakni SMAN 1 Simpangrimba.

Sesampainya di sekolah Hanifa terkejut dengan perkataan yang sangat menyakitkan di hatinya yang langsung disambut dengan ejekan dari teman-temannya. Tetapi yang paling sering adalah Santo dan Sintia seorang anak yang nakal yang juga suka mengejek Hanifa.

“Hey teman-teman ada tukang caper dan cepu nih awas loh nanti dicepu in!! ucap Sintia.

“Kalau aku sih males banget ya jadi anak yang tukang sok caper dan cepu di kelas atau di luar kelas,” sahut Santo.

Dengan menghiraukan ucapan itu Hanifa terus melangkahkan kakinya dengan perjalanan yang membisu dan diiringi tatapan sinis dari teman-temanya sepanjang perjalanan.

Laras yang berada tepat di belakangnya hanya bisa menarik nafas panjang dan mencoba menyemangati Hanifa kembali agar semua perkataan temanya tadi dihiraukan dan tak di masukkan ke hati.

“Hanifa yang sabar ya, dan tetap ingat nasihat ibumu,” ucap Laras dengan penuh semangat.

Hanifa hanya bisa menjawab dengan menganggukkan kepala dan dengan senyum pura-puranya itu. Melihat senyuman Hanifa yang sudah tak mendengarkan omongan temanya itu , Laras merasa lega karena keadaan Hanifa baik baik saja padahal dalam hati Hanifa dia sedang sedih dan memikirkan omongan teman kelasnya.

Setelah itu Laras menarik tangan Hanifa dan mengajaknya masuk kelas. Suara bel berbunyi itu tandanya pelajaran akan dimulai. Dari kejauhan terlihat seorang bapak guru menuju kelas untuk mengajar ekonomi yaitu Pak Karim.

Pada pelajaran kali ini Pak Karim meminta tugas untuk dikumpulkan. Semua murid pun mengeluarkan tugasnya kecuali Hanifa yang terlihat kebingungan seperti sedang mencari buku tugasnya.

“Apakah bukunya tertinggal, atau Hanifa salah menjadwal mata pelajaran, atau apa mungkin bukunya terjatuh?” pikir Laras yang ikut cemas dan kebingungan kepada sahabatnya itu.

Belum sempat Laras mecoba membantu Hanifa, Pak Karim sudah menghampiri Hanifa yang sedang sibuk mencari buku tugasnya entah kemana.

“Apa kau tidak mengerjakan tugas Hanifa!” bentak Pak Karim dengan wajah kesal.

“Sudah pak, sudah tetapi bukunya tidak ada,” jawab Hanifa dengan muka panik dan cemas.

Kepala Hanifa menunduk dan matanya melirik tajam dan marah ke Sintia dan Rani yang sedang tertawa cekikikan melihat Hanifa yang sedang dimarahi oleh pak Karim.

Dalam hati Hanifa seolah-olah memberontak sehingga nafasnya tidak teratur dan cemas. Melihat, itu Laras merasa semua pertanyaan-pertanyaanya kini sudah terjawab, bahwa masalah yang dialami Hanifa sekarang adalah ulah Santo dan Rianti.

Sikap Rianti dan Santo terhadap Hanifa masih saja terus berlanjut hingga pada akhirnya sampai pada kejadian yang menjadi puncak kejailan mereka berdua.

Kejadian itu terjadi ketika aku dan Hanifa sedang membaca buku di perpustakaan. Karena sudah bel aku dan Hanifa berpamitan kepada ibu penjaga perpustakaan untuk minta izin masuk ke kelas karena sudah ada gurunya. Pada saat masuk, tiba-tiba kaki Sintia menghalangi langkah Hanifa.

“Breekkk…” terdengar suara yaitu suara Hanifa yang terjatuh. Pada awalnya Sintia dan Rani tertawa terbahak bahak-bahak seolah olah misinya itu berhasil beres.

Laras langsung terkejut melihat Hanifa yang terjatuh, lalu Laras langsung menghampiri Hanifa dan menanyakan keadaan dia. Lantas Hanifa hanya bisa terdiam dengan mata terpejam seolah olah menjerit kesakitan, tangannya memegang erat pergelangan kakinya seolah-olah merasa dirinya tidak kuat lagi.

Semua teman-temanya mengerumuni Hanifa dan Laras. Melihat keadaanya yang semakin memburuk, wajah Sintia dan Santo menjadi pucat. Langkahnya mulai mundur, raut wajahnya penuh ketakutan dan kecemasan. Hari tragis itu berakhir setelah Hanifa yang tiba tiba langsung di bawa ke UKS karena kondisinya yang semakin pucat dan juga hampir pingsan karena tadi sempat disandung oleh Sintia dan juga karena tindakan perundungan (bullying) yang dilakukan mereka.

Keesokan harinya suasana di kelas menjadi sepi seperti masih terhanyut dengan kesedihan. Sintia dan Santo yang biasanya membuat keramaian di kelas juga hari ini hanya terdiam di pojok belakang kelas. Tak lama kemudian Laras datang ke kelas dengan wajah penuh amarah dan kesal
tatapannya tajam menatap mereka berdua.

Tampak Pak Rahmad guru BK di sekolah kami yang berada tepat di belakang Laras membuat Sintia dan Rani semakin ketakutan. Keduanya semakin terpojokan dan akhirnya mereka berdua diseret menuju ruang BK oleh pak Rahmad karena kesalahan yang telah mereka perbuat.

Laras sebagai seorang sahabatnya Hanifa kini merasa lega, karena akhirnya ia dapat melaporkan kelakuan Sintia dan Rani yang sudah melakukan bullying ke teman-temannya. Karena kelakuanya telah merugikan orang banyak bahkan tak jarang dari mereka yang sering dibully harus tidak masuk sekolah karena tertekan dan sakit hati dan sudah tidak kuat menerima caci maki dari Sintia dan Santo.

Setelah satu hari tak masuk kelas akhirnya Hanifa dapat masuk sekolah kembali. Dan juga hari itu pula untuk pertama kalinya Sintia dan Santo meminta maaf kepada Hanifa di depan semua teman-teman kelasnya dan mereka janji tak akan pernah membuli Hanifa dan akan menjadi teman baiknya untuk selamanya.

Jadi kita sebagai pelajaran SMA Negeri 1 Simpangrimba mari kita STOP No bullying karena bullying itu adalah salah satu bentuk dari perilaku agresi dengan kekuatan dominan pada perilaku yang di lakukan secara berulang ulang dengan tujuan mengganggu anak lain atau korban yang lebih lemah darinya. Perundungan atau bullying sering kali terjadi di sekitar kita, tak terkecuali di kalangan anak anak remaja di sekolah.

Dampak perundungan bisa mempengaruhi kondisi emosi anak yang bisa berakibat pada turunnya prestasi akademis dan non akademis bentuknya bisa bermacam-macam.

Adapun upaya pencegahan yang bisa dilakukan di lingkungan sekolah, adalah dengan penyebaran kesadaran kepada murid terkait cyberbullying, tidak melakukan viktimisasi serta menjadikan berbullying dan dampaknya sebagai topik pelajaran yang relevan di sekolah jadi mari kita bersama sama mari mencegah tindakan bullying Say No tindakan bullying di sekolah karena bullying itu sangat berbahaya bagi anak remaja zaman sekarang.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *