Share

Penulis : Putri Rahmawati (Pelajar SMAN 1 Simpangrimba)

Hujan, sebuah air yang jatuh dari langit dan membuat suasana sekitar seketika menjadi sedikit ramai yang membuat suasana menjadi sejuk dan dingin.

Perkenalkan, Raisa sosok perempuan yang tangguh tapi tidak ada seorang pun mampu menahan tetesan air matanya di kala sedang sedih.

Siang ini hujan datang bersama dengan perasaan hatinya. Perasaan yang tidak bisa diungkapkan Raisa dalam sebuah kalimat apa pun sesekali dia suka menikmati hujan, tanpa kata, tanpa suara, hanya sunyi yang aku rasakan dari sudut jalan.

Raisa melihat sangat jelas sekali rintikan itu membuat khayalannya melayang jauh kepada perasaan yang sedang merenggut semua pikiran dan hati yang sedang kacau ini. Kejadian-kejadian buruk seolah memaksanya harus mengingat setiap waktu tanpa henti.

Ditambah juga masalah di rumah yang membebani pikiran Raisa saat ini.

Tidak memberinya ruang untuk beristirahat sejenak untuk menenangkan pikiran, jalan yang berhenti terhalang datangnya hujan siang hari ini.

“Hujan bisakah engkau reda agar aku bisa melanjutkan perjalananku?” ujar Raisa.

“Iya memang benar hanya kamu yang bisa menghapus air mata ini. Ingat hujan jangan engkau tertawakan aku karena aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa tangis ini?” Raisa menggerutu.

Seolah dia gila, sedang berbicara dengan air mata yang tidak bisa membalas celotehannya.

“Mereka sungguh jahat padaku atau aku yang tidak sadar?” gumam Raisa dalam hati.

Sakit sekali rasanya saat mendengar dan mengingat kembali apa yang sudah mereka lakukan pada Raisa, seakan semua kalimat-kalimat itu menjadi satu di dalam pikirannya saat ini.

“Raisa lihatlah apa yang sudah kamu lakukan kepada kami. kamu sudah merusak nama baik kami semua di hadapan guru-guru,” kata teman kelas Raisa bernama Risma.

“Raisa aku pikir hubungan kita tidak bisa di lanjutkan lagi, aku ingin kita mengakhiri hubungan ini. sekali lagi aku minta maaf Raisa,” kata Arya.

“Raisa kenapa kamu ini selalu buat masalah setiap harinya dan mengapa dirimu itu selalu membuat kami orang tuamu malu dan kecewa dan juga kamu itu kenapa tidak bisa seperti teman-temanmu ha!! Raisa. Dasar kamu ini anak yang tidak berguna,” kata orang tuanya.

Semua ucapan itu selalu terngiang dekat sangat di telinga Raisa. Air matanya idak bisa lagi tertahan, menetes tanpa henti, bibir yang bergetar seolah ingin berteriak sekencang-kencangnya di tempat yang sepi dan sunyi.

Payung yang bewarna biru muda perlahan menurun, mengizinkan Raisa untuk menghapus air matanya ini di bawah rintik hujan. Sudah cukup lama menunggu sampai hujan reda, rasa ingin menembus jiwa.

Tiba-tiba teman Raisa datang menemuinya dan berkata…

“Raisa kamu sedang apa di sini?” seseorang melontarkan pertanyaan kepada Raisa. Dengan cepat Raisa berusaha kuat membalikkan tubuhnya yang cukup lemah.

“Halimah,” ujar Raisa seolah kaget dengan kehadiran Halimah.

“Kamu tidak tahu cara menggunakan payung yang benar ya? Sini aku ajarkan cara menggunakanya,” celoteh Halimah.

Halimah, ya dia adalah orang yang sangat menyebalkan sekali di mata Raisa. Walaupun demikian, Halimah adalah orang yang selalu ada di saat masa-masa terpuruk Raisa dan terutama saat diterpa kesedihan.

“Aku tahu air mata itu, kamu itu hanya butuh tempat meluapkanya. Aku, ya aku tempat itu,” Halimah mencoba menguatkanku.

“Apapun yang sudah terjadi kepadamu, setiap persoalan akan ada pengharapan. Ingat kataku Raisa, bahwa harapan berhak untuk siapapun dan juga setiap masalah pasti selalu ada jalan. Katakan pada Allah SWT apa yang terjadi padamu saat sekarang ini karena hanya Allah SWT lah yang tahu jalan keluarnya dari setiap masalahmu itu,” sebut Halimah.

Kemudian Halimah mencoba menenangkan Raisa dengan kondisi sedang hancur hatinya dan berkecamuk di otaknya. Seakan Halimah paham betul apa yang sedang terjadi pada Raisa saat ini.

Di sisi lain, Raisa hanya bisa bergumam, menangis dan menatapnya seolah ingin mengatakan gejolak di dalam hati kalau sedang tidak baik-baik saja. Banyak masalah dan beban.

“Allah SWT menciptakan kita memiliki tujuan dalam hidup ini dan setiap proses yang kita lalui selalu ada jalan. Namanya cobaan kecil atau pun besar, Allah itu mau kita mengandalkanya dalam setiap hal di dalam hidup yang kita jalani. Kita itu manusia biasa, kita manusia lemah hanya Allah SWT lah penguat kita semua dalam segala sesuatu yang terjadi pada kita” kata Halimah

“Terkadang Allah swt itu menolong kita dengan cara membawa kita tetap sejalur kehendaknya. Masalah yang terjadi tidak melampaui batas kemampuan manusia, bersyukurlah dan berterima kasih setiap waktu,” ujar Raisa kepada Halimah.

Kemudian Haliman pun mengantarkanya pulang ke rumah sambil berkata…

“Nah itu kamu tahu Raisa sekarang jika kamu sudah tenang dan lega mari aku antar kamu pulang sekarang kamu jangan hujan hujanan seperti ini nanti kamu sakit,” jawab Halimah.

“Iya Halimah sekarang aku sudah tenang aku juga sudah bisa menyelesaikan masalahku saat ini karena dirimu. Ayo sekarang kita pulang,” ujar Raisa.

Mereka berdua pun kemudian bergegas untuk pulang ke rumah boncengan mengendarai sepedanya milik Halimah.

Sepanjang perjalanan, dua sahabat itu menikmati indahnya pemandangan alam dan suasana kampung yang asri. Ya, hitung-hitung menghilangkan kesedihan setelah tadi Raisa lama menangis dan kini sudah waktunya untuk bersenang-senang.

Udara yang sejuk, burung-burung yang berterbangan membersamai perjalanan mereka berdua. Hingga akhirnya setelah lama berkeliling naik sepeda keliling kampung, keduanya sudah tiba di rumah Raisan dan mulai berpamitan satu sama lain untuk kembali berjumpa di lain hari.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *