SOP & Penerapan K3 Proyek Saluran Aribara-Toboali Dipertanyakan, Begini Kata Dede Adam

0
Share

Bekawan.co.id, Bangka Selatan – Salah seorang masyarakat di Kota Toboali, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan (Basel), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Dede Adam menyoroti proyek pembangunan saluran air di sejumlah titik dari Desa Airbara menuju pusat perkotaan.

Pasalnya, proyek yang dikabarkan telah menelan dana ratusan miliar itu tidak menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP). Dia menilai kontraktor proyek, terkesan abaikan keselamatan pengguna jalan sebab tidak memasang traffic cone (kerucut lalu lintas) dan traffic light (lampu lalu lintas) di jalan.

“Sejauh pengamatan saya, kontraktor proyek hanya memasang plang rambu saja, bertuliskan hati-hati ada pekerjaan saluran. Apakah SOP seperti itu, karena saya lihat banyak tumpukan material masuk ke jalan walaupun ada beberap sebagian ditempatkan di bahu jalan,” ujar Dede Adam, Senin (28/2).

“Kalau siang mungkin pengguna jalan seperti saya sendiri bisa melihat kalau ada tumpukan material seperti pasir dan baru gunung dari proyek itu, namun kalau malam, bisa membahayakan. Karena tidak ada traffic cone dan traffic light. Apalagi di daerah tikungan yang tidak terlihat, bahaya kan,” sebut Dede.

Tidak hanya tumpukan material saja, ia juga menyoroti adanya concrete mixer (mesin cor) yang ditempatkan di dalam permukaan jalan. Memang, kata Dede, saat titik di mana proyek siring itu dikerjakan, sejumlah karyawan terlihat memasang kerucut lalu lintas dan ada bertugas mengatur arus lalu lintas.

Tapi, ketika proyek itu tidak dikerjakan, entah karena masuk jam istirahat atau dijeda untuk dilanjutkan pada esok hari, tidak ada upaya perhatian keselamatan apapun dari pihak kontraktor. Padahal, setahu dia, setiap kegiatan proyek yang bersifat fisik, apapun bentuknya punya konsultan pengawas di lapangan.

“Ke mana konsultan pengawas proyek ini, kok bisa katanya proyek ratusan miliar tak memperhatikan keselamatan pengguna jalan. Coba berkoordinasi ke pihak desa atau masyarakat sekitar di dalam pekerjaan, kan bisa manfaatkan lahan warga untuk taruh alat, material atau apa gitu biar tidak masuk jalan,” jelasnya.

Dirinya berharap lembaga yang bawahi proyek itu dapat meninjau secara rutin dan kontinyu pekerjaan tersebut. Agar kegiatan yang notabenenya tidak lain untuk pembangunan daerah yang lebih baik ini dapat berjalan aman, lancar dan tidak ada hambatan. Serta tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.

“Harapan saya selaku masyarakat Kota Toboali agar pihak terkait untuk turun ke lapangan secara kontinyu dalam pekerjaan proyek ini. Karena saya lihat, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja sesuai amanat PP RI Nomor 50 tahun 2012 sepertinya tak diterapkan oleh kontraktor proyek,” jelas Dede.(hanxiao)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *