Darurat Asap di Bangka Tengah Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan

0
Share

Oleh Darmansyah, S.H.

Mahasiswa Magister Hukum Universitas Bangka Belitung

Beberapa hari terakhir ini, masyarakat di sebagian Kabupaten Bangka Tengah terutama di Ibukota Kabupaten Bangka Tengah yaitu Koba, terpaksa harus menghirup udara yang tidak sehat dan kurang segar. Terjadinya kebakaran hutan dan lahan terutama di lahan gambut telah menyebabkan munculnya asap dalam jumlah yang cukup banyak yang menyebar di sebagian Kabupaten Bangka Tengah. Tercemarnya udara ini memberikan dampak negatif terutama bagi kesehatan masyarakat. Adapun ketika kualitas udara makin memburuk menjadi berbahaya maka dapat merugikan kesehatan pada populasi dan perlu penanganan cepat.

Kondisi ini bila berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama maka akan berdampak pada msyarakat yang akan mengalami gangguan pernafasan, ada tiga persoalan yang menyebabkan asap dari kebakaran hutan dan lahan menjadi bersifat kedaruratan dalam konteks perlu penanganan cepat sehingga dapat mengurangi dampak negatifnya.

Pertama, persoalan kebakaran hutan dan lahan gambut yang lebih sulit dipadamkan. Kedua, masalah ketersedian air yang terbatas dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Ketiga, ketidakpastian iklim dan fenomena El Nino yang menyebabkan kemarau menjadi lama.

Asap dari kebakaran hutan gambut yang menjadi dominasi kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Bangka Tengah dan sekitarnya. Hal ini disebabkan adanya pembukaan lahan gambut menjadi lebih terbuka dan cenderung lebih panas serta lebih kering. Situasi inilah yang membuat lahan gambut mudah terbakar, lebih parahnya lagi kebakaran di lahan gambut yang tidak terlalu kering cenderung akan memproduksi asap yang lebih banyak dari kebakaran dilahan gambut kering.

Dalam beberapa bulan terakhir ini jumlah dan frekuensi hujan mengalami penurunan, hal ini sejalan dengan tibanya musim kemarau, ada beberapa wilayah di Kabupaten Bangka Tengah yang mengalami tidak pernah terjadinya hujan selama satu bulan yang membuat sumber mata air hampir mengering. Maka apabila terjadi kebakaran akan menjadi kendala dan terhambat dalam mendapatkan sumber air untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Dengan tidak tersedia air yang ada disekitar kebakaran hutan dan lahan berdampak dengan kecepatan dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan, semakin lama penanganan kebakaran hutan dan lahan maka akan semakin sulit untuk dipadamkan, terutama dilahan gambut, karena api bergerak tidak hanya dipermukaan tanah tapi juga bergerak dibawah tanah, kendala seperti inilah mengajarkan kita untuk menata pengelolaan air yang ada dilahan terutama dilahan gambut.

Pola Perubahan Iklim

Perubahan iklim umumnya mengacu pada perubahan suhu dan pola cuaca dalam jangka panjang, terutama akibat aktivitas manusia telah menjadi pendorong utama perubahan iklim, terutama dengan pembakaran bahan bakar fosil (seperti batu bara, minyak dan gas) yang menghasilkan gas yang memerangkap panas (gas rumah kaca). Perubahan iklim juga bisa diartikan sebagai perubahan suhu yang drastis, curah hujan, pola angin, dan lain sebagainya. Mengacu pada pola yang terjadi maka semestinya kita sudah bersiap-siap memitigasi kebakaran hutan dan lahan ketika Elnino akan datang.

Pencegahan kebakaran hutan dan lahan sebenarnya lebih mudah, dan lebih murah, dan lebih kecil dampak negatifnya bila dibandingkan dengan pemadaman. Oleh karena itu, planning by design tentu akan jauh lebih efektif dari pada planning accident. Semoga menjadi pembelajaran bersama bagi kita dan para pihak pemangku kepentingan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan saat ini maupun kedepannya karena hutan dan lahan bukan merupakan warisan nenek moyang kita, melainkan titipan anak cucu kita.

Salam Hijau & Sejuk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *