Sebelum Masuk Daftar 100 Ilmuwan Hukum Indonesia, Berikut Kisah Lengkap Abriel dengan Segudang Prestasinya

0
Share

Bekawan.co.id, Bangka Selatan – Salah seorang pemuda asal Kota Toboali, Kabupaten Bangka Selatan (Basel), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) berhasil mengharumkan nama daerah ke tingkat nasional bahkan internasional. Ia adalah Abrillioga asal Jl Teladan Amd Gg Al Barokah, Toboali.

Lalu, apa prestasi yang telah diraih oleh pemuda berusia 21 tahun tersebut? Ya, capain itu adalah Abrillioga berhasil mencatatkan namanya dalam daftar Top 100 Ilmuwan Hukum Indonesia versi World Scientist and University Rangking 2023. Bahkan se Indonesia, namanya berada diurutan kedelapan.

Sistem perangkingan itu dikabarkan berdasarkan hasil penilaian terhadap jurnal yang dikirimkan pengirim. Mulai dari kalangan guru besar, lektor kepala hingga para akademisi dan mahasiswa yang mana jurnal yang ditulis Abrillioga banyak diakses oleh pengunjung. Dan nilai itu membawanya ke posisi 8.

Meski sempat tidak menyangka, raihan ini membuat Abrillioga senang, bangga dan bersyukur. Pasalnya, bukan hanya nama daerah saja yang dia harumkan, tetapi juga tempat kini dia menimba ilmu, Fakultas Hukum (FH) Universitas Bangka Belitung (UBB).

Lantas seperti apa kehidupan hingga ia tumbuh menjadi pemuda berprestasi seperti saat ini? Simak ceritanya berikut ini. Abrillioga dikenal dengan nama Abriel Rumi. Itu adalah nama penanya, terkadang orang memanggil dengan nama Abriel atau Rumi. Nama itu ia juga pakai pada akun medsosnya.

Abriel lahir dari pasangan Junaidi dan Hilda, pada 8 April 2001 di Kota Jambi saat orang tuanya sedang mengadu nasib di Kota Beradat tersebut. Orang tuanya memang bertemu pada saat merantau. Ayahnya merupakan seorang mualaf dari Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

Sedangkan ibunya berasal dari Keman, sebuah desa terletak di Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Saat memasuki usia sekolah, orang tua Abriel memutuskan untuk kembali mengadu nasi di Selatan Pulau Bangka, tepatnya Kota Toboali.

Menetap di sebuah rumah yang berada di Jl Teladan Amd, Gg Al Barokah, Kelurahan Teladan, orang tua Abriel kemudian memasukkannya ke SDN 7 Toboali pada 2007. Dan menamatkan pendidikan dasarnya tahun 2013. Dia tumbuh, menjalani masa kecil sama seperti anak-anak lain pada umumnya.

“Seperti anak lain kalau masa kecil aku itu main, belajar, jalan. Sebenernya aku dulu pada saat masih kelas 1 dan 2, apalagi kelas 2 itu nilaiku benar-benar anjlok. Memang waktu itu aku akui ya sangat malas. Aku itu dua bersaudara ada kakak namanya Habibi. Beda kami usia dua tahun,” ujarnya, Selasa (28/2).

“Jadi kakak aku kelas 3 dan aku kelas 1. Aku masih ingat waktu itu kakak aku sering juara kelas, dipanggil ke lapangan setiap juara kelas. Lalu ada ucapan salah satu guru, itu tadi yang maju ke depan, kakak kamu ya, kenapa dia bisa kamu tidak apakah kamu tidak malu, itu aku ingat benar,” ucapnya.

Tidak hanya itu, kata Abriel pada waktu itu ibunya juga memberi ucapan yang sedikit sama dengan guru tadi meski tidak menuntutnya harus terus belajar agar menjadi juara kelas. Dari sana, dia lalu termotivasi dan berusaha keras agar nilai pelajarannya membaik, tidak seperti di kelas 2 yang sangat buruk.

“Omongan guru tadi awalnya belum ya, aku tanggapi, tapi setelah mama aku yang ngomong karena nilaiku sangat anjlok pada saat kelas 2 bahkan ada yang 20, ada yang nol, aku langsung berpikir, terus berusaha untuk perbaiki nilai-nilai yang buruk tadi. Itu mulai aku lakukan saat masuk kelas 3,” ujarnya.

Abriel kemudian mulai lebih giat belajar dan mengembangkan apa yang jadi kekurangan selama ini. Benar kata orang, hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Sejak saat itu prestasi di kelas tidak pernah keluar dari tiga besar hingga ia menamatkan pendidikan di tingkat pendidikan menengah atas.

“Mentok di rangking 3 sejak kelas tiga, tapi biasanya 1 dan 2. Tapi pada saat masuk kelas 1 di SMPN 1 Toboali aku pernah sakit parah, hampir tiga bulan tidak masuk. Aku sempat divonis tidak bisa tertolong, banyak penyakit yang aku idap. Lambung, usus buntu sampai pusar perutku tidak terlihat,” katanya.

“Perutku itu sempat membesar ya, dan orang tua sudah menyerah, tapi Allah masih memberikan kesempatan hidup, alhamdulillah aku berangsur sembuh. Jadi aku cuma tiga hari sekolah. Lalu setelah sembuh, aku langsung tancap gas, belajar karena banyak pelajaranku di sekolah yang tertinggal,” kata Abriel.

Lagi dan lagi, dia kembali menjadi juara kelas. Bahkan juara umum diraih Abriel dari tujuh kelas berdasarkan hasil perangkingan tiga besar dari tiap kelas. Kata Abriel, capaian ini tidak lepas dari pesan orang tuanya, khususnya sang ibu yang mengatakan kalau tertinggal, bukan berarti kalah asal mau berusaha.

Membaca 15 Menit, Belajar Berbicara

Ada satu hal yang wajib dilakukan oleh Abriel sebelum dan pada saat bangun tidur, dan ini patut ditiru yang lain. Hal itu adalah sebelum tidur, dia biasanya akan membaca buku minimal 15 menit tentang apa saja. Sekadar menambah wawasan baru, atau memperjelas hal yang sudah dipelajari untuk diingat.

“Kalau saat bangun tidur aku biasanya ngomong depan cermin, belajar bicara yang baik dan benar di hadapan orang. Bisanya aku belajar ngomong sesuai topik yang kuminati, dibahas dengan temanku. Itu sudah dimulai sejak kelas 3 SD, rutinnya kelas 6 hingga sekarang, kecuali kalau lagi capek,” ujar Abriel.

“Jadi kenapa aku berusaha keras untuk belajar ngomong karena ada kejadian di kelas 3 SD itu, aku pernah baca puisi di lapangan sekolah, ditertawakan oleh kakak kelasku di kelas 6. Karena baca puisi kan harus ada ekspresi, segala macamnya, itu tidak aku terapkan, jadi aku nangis setelah itu,” sambungnya.

Meski begitu, dia tak patah arang serta berusaha belajar keras untuk bisa lebih baik saat berbicara di hadapan semua orang. Semangat belajar itu terbangun berkat nasihat yang disampaikan guru Abriel saat itu. Nasipa namanya. Sang guru langsung menghampiri Abriel saat ditertawakan kakak kelasnya waktu itu.

Sembari menguatkan Abriel, pahlawan tanpa tanda jasa itu berkata bahwa ia adalah siswa terbaik karena setidaknya sudah berani tampil. Mereka yang menertawakanmu, kata almarhumah, belum tentu bisa sepertimu. Ucapan sang guru membakar semangat Abriel untuk belajar dan belajar berbicara.

Dekat dengan guru Bahasa Indonesia

Pada saat masih duduk di lingkungan SMPN 1 Toboali, Abriel sangat dekat dengan sosok perempuan bernama Suryani. Guru Bahasa Indonesia itulah yang menggali lebih dalam potensinya di dunia sastra literasi. Ditambah, dia memang ikuti kegiatan ekstrakurikuler kelas jurnalistik bimbingan Suryani.

“Jadi beliau yang menggali potensi itu, ada ucapan Ibu Suryani katanya kamu bisa dilatih kemampuan sastra literasi. Karena kata Beliau saya punya bakat di situ sehingga ketika saya sudah lanjut ke SMAN 1 Toboali, persisnya kelas 1 saya sudah berani menulis opini publik di media massa,” sebut Abriel.

Jika di SMP ada Ibu Suryani dan saking dekatnya Abriel memanggil ‘Emak’, beda cerita ketika di SMA. Di sekolahan yang berada di Jl Kolong Dua, Toboali itu, Abriel sangat akrab dengan dua orang guru bahasa sekaligus. Yeni dan Gus Khairi namanya. Berkat keduanya, kemampuan sastra literasi Abriel kian meningkat.

“Sebenarnya sejak SD semuanya dekat dengan guru bahasa, tapi bukan berarti tak suka mata pelajaran lain. Memang suka sesuatu bersifat deskriptif, bukan hitung-hitungan. Makanya saat ada olimpiade, tidak mau Matematika atau Kimia, aku lebih memilih Geografi. Kan itu ada soal penguraian,” bebernya.

Sederet Prestasi

Pada saat masih duduk di bangku SDN 7 Toboali, Abriel yang mengidolakan Najwa Sihab dan Margaret Thatcher pernah mewakili sekolahnya ke tingkat kabupaten dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) cabang bulutangkis. Di kabupaten, ia kembali menjadi juara dan dikirim ke provinsi.

“Jadi aku itu orangnya tidak kutu buku juga, karena saat SD aku aktif olahraga bulu tangkis juga dan tergabung dalam salah satu klub di Toboali. Sampai aku berhasil menang di kabupaten, dikirim ke provinsi. Tapi belum berhasil juara. Kalau ikut olimpiade selalu ikut dari SD tapi mentok di kabupaten,” ujar Abriel.

Selain itu, pada semester akhir kelas 1 SMP, Abriel pernah mengikuti kembali olimpiade meski belum berhasil juara. Di kelas 2, ia berhasil mengharumkan nama daerah karena tiga tulisan yang berjudul Buang Jung, Nujuh Jerami dan Perjuangan atas Harapan masuk 30 karya sastra terbaik se Babel.

Semua itu, kata Abriel tidak lepas atas dukungan penuh Suryani. Tiga karya Abriel ini kemudian dibukukan dan disebarkan ke seluruh perpustakaan sekolah di Babel. Pemuda yang saat ini gemar bermain permainan online Mobile Legends Bang-bang itu sempat menjuarai Olimpiade Sains Nasional.

Tetapi itu di tingkat kabupaten, melaju ke provinsi namun gagal melenggang ke nasional. Tidak hanya itu, semasa duduk di bangku SMP, Abriel juga aktif berpartisipasi dalam pelbagai lomba antar pelajar seperti membaca puisi Ki Hadjar Dewantara. Namun, semua itu belum berhasil membawanya ke nasional.

“Kalau SMA, aku lebih aktif ikut lomba ke debat, juara 1 se Basel dan dibawa ke provinsi kemudian di tingkat provinsi kalah. Karena itu pengalaman pertama dan di tahun persiapan tidak maksimal. Karena awalnya itu aku gak suka debat dan aku nggak tahu sistem dalam debat itu seperti apa,” sebut Abriel.

“Jadi ceritanya, aku dalam lomba debat yang dikirim ke provinsi ini setelah tim kami berhasil menjadi juara di tingkat kabupaten, juara 1 itu SMA Payung tapi aku yang dapat best speaker. Karena, besok lomba, hari ini guru bahasa saya baru bilang. Jadi memang tidak ada persiapan sama sekali,” kenang Abriel.

Di tahun kedua, dia kembali mengikuti lomba debat tersebut, namun karena kemampuan pelajar lain khususnya di Kota Pangkalpinang membuat Abriel harus kembali mengubur mimpinya ke nasional. Abriel nilai faktor regenerasi yang terus berjalan membuat siswa di Ibukota jauh lebih baik saat berdebat.

“Memang saat kelas 2 itu kami belum berhasil juara 1, tetapi masuk 3 besar. Tetap bersyukur karena setidaknya kita sudah memberikan yang terbaik. Dan di kelas 3 aku kembali ikut lomba debat hukum dan sebagai pengabdian terakhirku di SMA, aku berusaha keras agar bisa maksimal,” terangnya.

“Tapi memang SMA di Pangkalpinang luar biasa persiapannya sehingga yang ke nasional mereka. Tetapi dari lomba debat hukum inilah yang membawaku ke dunia hukum sampai saat ini karena ada dua orang juri saat itu berkata, saya tunggu kamu 2 sampai 3 tahun ke depan. Kamu punya potensi,” katanya.

Setelah menamatkan SMA tahun 2019, ia menuju Universitas Bangka Belitung lewat jalur beasiswa. Faktor belum ingin jauh dari orang tua membuatnya memilih Fakultas Hukum di kampus pimpinan Prof. Dr. Ibrahim, M.Si. Abriel kembali berusaha mengharumkan nama kampusnya lewat lomba debat.

Bahkan Abriel melenggang ke nasional pada lomba debat yang digelar oleh Bawaslu RI. Tidak hanya itu, ia sebagai ketua tim dan dua orang adik tingkat dalam tim tersebut berhasil melaju hingga babak 30 besar. Padahal, lomba ini diikuti 276 universitas se Indonesia. Dan hanya UBB perwakilan dari Babel.

“Dan ini suatu kebanggaan bagi saya pribadi karena memang untuk masuk ke 30 besar tersebut apalagi di hukum agak sulit karena persaingan dengan universitas lain juga cukup tinggi dan ketika masuk lolos 30 besar sampai ke Jakarta itu euforia di kampus, bawaslu se kabupaten kota luar biasa,” ujarnya.

“Dari pak rektor, dekan, dosen, pihak bawaslu mendukung penuh, mereka semua memberikan ucapan, dukungan dan antusiasnya membuat saya terbaru. Ada yang bahkan mengundang kami melakukan pertemuan. Tetapi ini sebenarnya jadi beban moril, kalau sampai gagal di nasional,” ungkapnya.

Tapi semuanya tidak menekankan agar menjadi juara dan berharap Abriel Cs mendapat ilmu sebanyak-banyaknya dari lomba debat itu. Pengalaman dan pengetahuan serta wawasan adalah yang terpenting. Hal itu membuat dia sedikit lega meski tetap berusaha memberikan hasil yang maksimal.

Akan tetapi, ia yang bermimpi menjadi jurnalis hukum dan politik hebat layaknya Najwa Sihab sempat juga akan mengikuti lomba debat hukum di nasional yang diselenggarakan oleh Mahkamah Konstitusi. Namun, akibat pandemi melanda di tahun 2022 lalu, lomba itu dibatalkan panitia kegiatan.

“Jadi sebelum ikut di Bawaslu RI, saya juga lolos akan ikut lomba debat di MK, waktu itu aku masih semester 2. Tapi karena covid, lomba itu batal yang rencananya akan digelar tanggal 20 Maret 2022. Sejak saat itu karena covid aku manfaatkan waktu menulis opini hingga jadi kebiasaan sampai saat ini,” jelasnya.(hanxiao)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *