Share

Penulis : Navisha Bilillah (Pelajar SMAN3 Toboali) 

Pagi yang cerah dan segar, matahari yang mulai menyinari duniaku dan suara ayam yang berkokok. Seperti biasa, rutinitas seorang anak bernama Zahra pada pagi hari yaitu mempersiapkan segala hal untuk pergi ke sekolah.

Zahra merupakan anak dengan tinggi 145 cm dengan warna kulit sawo matang. Zahra memiliki sifat yang ramah, berani, dan lumayan judes. Zahra juga anak yang periang dan cukup banyak bicara.

Zahra di tahun 2022 menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas 9. Rutinitas Zahra sama seperti pelajar-pelajar lain di Indonesia. Ia bangun pagi untuk menyiapkan segala sesuatu sebelum berangkat ke sekolah seperti sarapan, mempersiapkan materi, buku, serta mental yang cukup untuk bekal di sekolahan.

Pagi ini Zahra berangkat menggunakan motor Beat berwarna hitam. Dia menaiki motor dengan perlahan karena kakinya tidak cukup menjangkau tinggi kendaraan roda dua itu. Memang Zahra anak yang tidak begitu tinggi di sekolahnya, di antara yang lain.

Walaupun begitu Zahra cukup berprestasi. Sebenarnya penggunaan motor masih di larang oleh sekolah, namun karena situasi dan kondisi keluarga yang sibuk, maka Zahra tidak ada pilihan lain untuk bisa membawa kendaraan sendiri ke sekolah.

Jarak antar sekolah dengan rumah Zahra tidak terlalu jauh, hanya 5 km saja, dan hanya butuh sekitar 7 menit untuk dapat sampai ke sekolahnya tersebut. Sesampainya di sekolah, biasanya ia menaruh motornya di pinggir parkiran guru yang terbuat dari kayu dan beratapkan genteng usang kecokelatan.

Dia kemudian berlalu ke arah teman-temannya yang berada di depan kelas 9A. Bangunan kelas 9A terbuat dari tembok dengan memiliki dua warna yang berbeda, putih dan hijau. Zahra perlahan melewati beberapa pintu kelas 8 hingga sampai ke kelas 9A, tempatnya belajar.

“Halo teman-teman apa kabar, apakah kalian sudah siap untuk ujian kenaikan kelas 10 nanti,” tanya Zahra dengan memasang wajah ceria dan tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.

“Pasti dong Zahra, kan kita harus ngejar nilai yang tinggi supaya nanti kita dapat masuk di SMA yang kita mau,” jawab Pepi dengan penuh semangat, sambil menggenggamkan tangannya ke atas.

Jadi hari ini merupakan hari pertama ujian sekolah. Pelbagai persiapan menjelang ujian sudah dipikirkan matang-matang olehnya, baik itu alat untuk ujian, hingga mempelajari materi yang sesuai dengan pelajaran.

Tepat pukul 07.15 ujian pun dimulai. Ujian yang pertama yaitu Bahasa Indonesia. Tidak berselang lama terdengar suara sepatu pantofel yang khas dari arah utara. Kletok, kletok, kletok, irama pantofel itu terdengar merdu dan beraturan. Suara itu semakin mendekat, dan tidak lama muncul dua orang pengawas yang Zahra agak asing dengan wajah tersebut.

“Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Ibu Ani, dan rekan saya Bapak Sopian yang berasal dari SMPN 4 Bandung. Jadi kami di sini menjadi pengawas kalian ketika ujian Bahasa Indonesia berlangsung,” Ibu Ani berbicara dengan tegas dengan sorot mata yang tajam, seakan matanya berbicara bahwa ia dapat melihat semua tindakan kecurangan yang mungkin saja dilakukan oleh siswa.

Kemudian Ibu Ani dan Pak Sopian menjelaskan beberapa aturan yang harus dipatuhi selama ujian. Yang paling penting adalah kejujuran dalam mengerjakan soal, ketepatan waktu, hingga konsekuensi yang diterima ketika ada siswa yang ketahuan mencontek.

Tepat pukul 07.50 Ibu Ani dan Pak Sopian sudan selesai membagikan lembar jawaban serta soal kepada seluruh peserta ujian, waktu ujian pun dimulai. Ujian hari ini tampak cukup lancar walaupun terlihat beberapa peserta yang cukup menaruh wajah yang muram.

Beberapa jam kemudian ujian pun berakhir, lalu seluruh peserta ujian termasuk Zahra kumpul di depan kelas tersebut sambil bercerita.

“Hey, kalian rasa ujian Bahasa Indonesia itu susah gak sih, aku kesusahan tadi mengerjakannya apalagi teks nya panjang-panjang,” kata Azel dengan memasang muka yang kesal, sambil memegang bahu Geza.

“Iya benar, susah banget sampai pusing baca teks nya karena panjang,” keluhan Geza dengan wajah yang cemberut, dan tangannya di kening.

Azel dan Geza merupakan teman Zahra serta kebetulan mereka juga satu kelas. Kali ini Zahra tidak memberikan komentar apapun terhadap ujian yang ia kerjakan. Zahra hanya terdiam lesu dan sedikit menatap kosong ke arah lapangan voli di depan kelas.

“Zahra, kamu gimana tadi ujiannya? Bisa mengerjakan semua engga?” tanya Azel sambil menolehkan wajahnya ke arah Zahra.

Zahra kali ini hanya tersenyum, namun sorot matanya tidak berbohong bahwa ia cukup kesulitan menjawab soal walaupun sudah mempersiapkannya dengan maksimal.

Beberapa hari pun telah berlalu bersamaan dengan itu ujian murid kelas 9 pun selesai. Inilah waktunya untuk menunggu hasil ujian. Untuk sementara waktu mereka diliburkan dan diberikan jeda sebelum menunggu hasil ujian keluar.

Tepat satu minggu setelah ujian selesai, hari di mana pengumuman hasil ujian pun bisa mereka ketahui. Seluruh siswa kelas 9 termasuk Zahra, Azel, dan Geza dikumpulkan oleh wali kelas di kelas 9A untuk mendengarkan pengumuman hasil ujian.

“Baiklah hari yang kalian tunggu datang juga, bagi yang mendapatkan juara ditingkatkan lagi. Dan bagi yang belum jangan sedih atau pun ingin menyerah, semua manusia mempunyai kemampuan masing-masing. Teruslah berkarya lebih semangat lagi mengejar cita-citanya semoga kalian masuk SMA yang kalian inginkan. Baiklah Ibu akan mengumumkan hasil dari ujian kalian jadi untuk yang peringkat,” ujar Wali Kelas 9A, Ibu Melati.

Sejenak wali kelas itu terdiam sesaat, lalu seketika suasana menjadi hening tanpa suara. Namun tiba-tiba wali kelas langsung menyebutkan hasil ujian sekolah yang diikuti oleh siswa kelas 9A. Dan memang di sekolah Zahra, pengumuman ujian tetap dilimpahkan ke wali kelas masing-masing untuk efisiensi waktu.

Yang berhasil mendapatkan juara dalam Ujian di kelas 9A adalah :

1. Pepi

2. Zahra

3. Anis

Wali Kelas menyebutkan juara dari angka 3 terlebih dahulu, dan butuh waktu 2 menit untuk menyebutkan semua juaranya. Karena mungkin Wali Kelas Zahra membangun suasana agar lebih menegangkan.

“Itulah hasil dari ujian kalian, selamat untuk yang mendapatkan juara. Baiklah hari ini terakhir kalian menduduki SMP, semoga kalian sukses selalu ya anak-anak. Jangan pernah melupakan guru kalian ini yang pernah mengajari kalian ya,” kata Wali Kelas dengan wajah yang sedih sambil menarap anak murid yang berada di hadapannya.

Teman-teman kelas 9 pun mengucapkan selamat untuk para juara, dan memberikan surat kecil yang berisi kesan-kesan untuk para Bapak/Ibu Guru yang sudah mengajari mereka. Sebelum pulang, seluruh siswa kelas 9 dikumpulkan di lapangan voli untuk menyimak pidato Kepala Sekolah dilanjutkan dengan menyanyikan lagu perpisahan untuk teman-teman dan Bapak/Ibu Guru.

Kelulusan SMP memang lah menyedihkan. Apalagi berpisah dengan guru dan teman-temannya yang memiliki banyak kenangan. Gunakanlah waktu kalian sebaik-baiknya sebelum menjadi kenangan.

Beberapa hari kemudian, murid yang baru lulus SMP mendaftarkan sekolah di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Murid yang bernama Zahra ini, ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke SMAN 1 Bandung. Dia yakin, kalau daftar di SMA itu pasti akan diterima. Karena dia mendaftarkan lewat jalur prestasi.

Suatu hari, Zahra memberanikan diri untuk berbicara ke orang tuanya.

“Ma, Ayah aku boleh tidak lanjut di SMAN 1 Bandung,” kata Zahra sambil tertunduk karena tidak berani menatap mata kedua orang tuanya yang sedang duduk di kursi rumah.

“Kan di kota kita juga ada SMAN 3 Jakarta, jadi kamu sekolah di sini aja,” jawab ayah Zahra dengan lembut, sambil menatap wajah Zahra yang cemberut.

Jawaban orang tua Zahra seakan membuat gadis kecil itu mengubur dalam-dalam keinginannya untuk dapat sekolah di tempat yang ia inginkan. Dengan wajah yang kecewa, kemudian Zahra berpaling meninggalkan kedua orang tuanya menuju kamar dan mengunci kamar tersebut.

Zahra pun sedih karena sekolah yang dia inginkan tidak dipenuhi oleh orang tuanya. Kata orang tuanya supaya lebih hemat uang kalau sekolah di kotanya sendiri. Faktor ekonomi merupakan pertimbangan yang cukup masuk akal menurut kedua orang tua Zahra.

“Semisalnya Zahra sekolah di SMAN 1 Bandung pasti akan banyak mengeluarkan uang. Apalagi kan jauh lagi masih mau melewati kota-kota yang lainnya,” kata ibu Zahra dari balik pintu.

Zahra pun mengikuti perkataan orang tuanya. Melihat dari raut wajahnya, si Zahra sangat kecewa sekali dengan orang tuanya karena dia sudah berusaha belajar demi untuk sekolah yang dia inginkan, tapi apa, semuanya hanya sia-sia.

Zahra merasa orang tuanya tidak menghargai kerja keras dia selama belajar waktu di SMP, mereka hanya mementingkan dirinya sendiri, tetapi tidak memikirkan kerja keras zahra yang mati-matian belajar demi sekolah yang dia inginkan.

Lama-kelamaan Zahra mulai terbiasa sekolah pilihan orang tuanya, iya walaupun dia masih belum terima kenyataannya bahwa dia harus sekolah di SMAN 3 Jakarta.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *